Kamis, 09 Juni 2016

Semoga Kamu Lekas Terganti

        Hai laki-laki yang sejak dua tahun aku kenal, yang pesona senyumnya masih melekat. Masih ingatkah saat pertama kita bertemu? Ah mungkin kamu lupa, karena pertemuan pertama kita hanyalah tatap, tapi bagiku; bagi wanita yang terpesona lewat tatap itu terus saja mengingat awal kita bertemu seolah hari itu aku mulai berharap bisa lebih dekat.

        Sebulan, dua bulan aku masih saja melihatmu dibalik panggung, masih mengagumimu menjelma sebagai penonton di pertunjukanmu, seolah semua tingkah lakumu membuatku makin 'mengidolakanmu'. Tapi aku bukan penggemar nomor satumu  dan aku tau itu dan akupun bukan 'penggemar fanatikmu', tapi aku terus mencoba agar kamu sedikit melihat ke arahku dan I get you. 

        Setelah perkenalan singkat yang hanya melalui media itu Aku semakin mengenalmu, dan mungkin begitu sebaliknya. Rasaku makin ada, makin tumbuh dan makin banyak entah kamu merasakan hal yang sama atau tidak aku tak memperdulikannya,  yang aku tau Aku makin tertarik pada pribadimu, sosokmu makin menjelma. Hari-hari yang kulewati terasa lebih cepat karenamu, perhatianmu yang membuat aku lebih bersemangat, tingkah lugumu yang sudah jarang kulihat pada sosok laki-laki lain ada padamu, kekonyolan yang kadang tidak lucu tapi mampu membuatku tertawa selalu hadir di lakumu, kehadiranmu yang terus ada saat aku di titik terendah membuatku merasa apa ada maksud lain dari semua ini.

        Ketertarikan sesat ini membuatku terus masuk dan mulai sedikit membenahi hati, bersiap jika kamu mulai ingin singgah. Hari demi haripun Aku terus mengkomunikasikannya dengamu, Aku senang ketika hari sibukmu, kamu masih sempat memberi kabar dengan sapaan 'dek' yang selalu ada disetiap percakapan dimulai. Ya, aku tau kita yang hanya awalnya memanggil dengan sapaan nama kini berubah dengan 'dek' 'mas', satu langkah lebih dekat, menuruku.

        Hari-hari 'kakak-adekan' yang kau anggap biasa ini makin lama makin membuatku nyaman, entah apa yang membuatnya semakin indah, mungkin modus-modus kecil, gombalan semata yang aku anggap secara berlebihan. Ah tidak, Aku yakin ini memang rasamu, karena yang Aku tahu kamu bukanlah sosok laki-laki murahan yang suka umbar kata gombal, yang Aku tahu kamu laki-laki yang memperlakukan wanita yang baru kamu kenal dengan dingin bahkan yang aku tahu, kamu adalah sosok pemalu yang menggemaskan.

        Opiniku tentang sosok indahmu itu, sosok yang sering aku ceritakan kepada sahabatku seolah hilang ketika salah seorang dari temanku sedikit menceritakan tentang kedekatanmu dengam wanita lain. Seolah duniaku sedikit mulai 'ambyar'. Aku bimbang harus percaya kata temanku atau pada opiniku. Aku; wanita yang keras kepala ini memilih untuk tetap percaya pada opiniku, opini bahwa kamu adalah sosok laki-laki yang baik. Meskipun begitu, Aku seolah ingin berjalan sedikit ke belakang agar jika memang ada sosok lain, celahmu untuk mendapatkannya makin tinggi dan agar kamu tidak merasa ada bayang-bayangku dibelakangmu.

        Hari-hari setelah ada kabar kedekatanmu dengan wanita lain itu, Aku seolah sadar jika memang kamu menjauhiku berarti apa yang dikatakan temanku itu benar. Tapi, masih saja notif darimu menjadi peringkat teratas di ponselku, kamu masih saja menghubungiku, dan tentu saja aku masih bersikap seolah aku tak tau kabar kedekatanmu itu, seolah menjadi wanita bodoh yang masih senang ada kabar darimu. Seolah duniaku masih baik-baik saja.

        Dua tahun berlalu dengan status tanpa kejelasan itu, entah aku yang terlalu berharap atau memang kamu tak ada rasa. Dua tahun aku lalui dengan terus mengikuti kabar tentangmu, meski Aku tahu bahwa setaumu Aku hanya diam tentang kedekatan kita. Tanpa kamu tahu dua tahun Aku diselimuti angin yang kadang membawaku terbang dan bahkan kadang mampu memghempaskanku. Kamu tahu rasanya? Kamu nggatahu rasanya kan? Rasanya diberi harapan namun tak ada kepastian?

        Akhir-akhir ini aku mulai merasa ada yang berbeda, seolah kamu menjauh, seolah kamu ingin segera pindah tempat, entah memang benar atau hanya rasaku saja. Jika memang kamu ingin pergi, pergilah aku tidak akan menahanmu, tapi jangan harap aku membukakan pintu ketika kamu kembali karena asal kamu tahu, Aku terlalu sakit ketika sadar kamu memilih pergi. Seolah kamu rasa dua tahun itu waktu yang singkat untuk menunggu, untuk berharap; itu waktu yang lama,bahkan sangat lama. Jika sejak awal kamu memang tak ingin singgah kenapa kamu terus memberi perhatian itu. Apa maksud perhatianmu? Apa arti percakapan kita yang tiap kali membunuh malam?

        Yang Aku takutkan butuh berapa lama Aku menyembuhkan luka yang kamu buat selama dua tahun itu, secepat apa Aku mampu mencari sosok baru yang lebih baik darimu. Pasti butuh waktu yang sangat lama, entah selama apa. Yang pasti, yang terus aku semogakan adalah kamu lekas terganti.


9 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar